Bayi Perempuan Malang Pengidap Down Syndrome ini Dibuang Orangtuanya di Kebun Sawit

 


  


Memiliki seorang bayi menjadi harapan setiap orang tua.

Hadirnya sang buah hati juga diharapkan akan menambah kebahagiaan di dalam sebuah keluarga.

Sayangnya, tak semua orang berpendapat demikian.


Beberapa orang justru tega mengabaikan dan bahkan sampai membuang bayinya sendiri.

Seperti yang terjadi di Malaysia belum lama ini, dimana seorang bayi dibuang oleh orangtuanya dan ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan.

===

Pada 7 Januari 2021, dikutip dari World of Buzz, seorang bayi berjenis kelamin perempuan ditemukan warga dibuang di sebuah area perkebunan kelapa sawit yang berloaksi di Kota Kemayan, Malaysia.

Tidak hanya itu, para warga kaget lantaran bayi malang tersebut terlahir dalam kondisi mengidap down syndrome.

Menurut laporan di Harian Metro, Wakil Kepala Kepolisian Distrik Bera Inspektur Mansor Samsudin mengatakan jika bayi ini ditemukan pada siang hari oleh dua orang nelayan, tepatnya pada pukul 1.45 siang waktu setempat.

Menurut Samsudin, kedua nelayan ini mengklaim kalau awalnya mereka menemukan sebuah kotak.


Saat diperiksa, sekujur tubuh bayi malang ini sudah dipenuhi bekas gigitan semut.


Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, bayi ini memiliki berat 2.12 kilogram dan diyakini lahir di antara pukul 5 dan 7 pagi hari di hari yang sama," ujar Samsudin.

Tidak hanya itu, pihaknya juga menemukan kalau bayi ini sempat dimandikan dengan air kotor sebelum dibuang di lokasi tersebut.

Kepada awak media, Samsudin juga menambahkan jika bayi malang ini sudah dibawa ke Rumah Sakit Kuala Pilah di Negeri Sembilan.

Pihak dari Departemen Sosial pun juga telah diberitahu terkait kejadian dan dipastikan akan ikut membantu menangani kasus pembuangan bayi malang ini.


Gambaran ibu yang semacam itu memang bisa memicu trauma atau efek negatif pada kondisi kesehatan mental sang anak

Tapi, sosok ibu yang tidak bisa memenuhi kebutuhan emosional sang anak meski tanpa berbuat kekejaman pun tetap bisa berdampak buruk pada kondisi mental sang anak.

Bahkan, dampak negatif tersebut bisa terbawa hingga sang anak berusia dewasa.


Sosok ibu memang memiliki peranan yang besar bagi tumbuh kembang sang anak.

Menurut pakar psikoanalisis Inggris, Donald Winnicott, sense of self seorang anak dibangun oleh jenis hubungan yang mereka miliki dengan pengasuh utama mereka (biasanya ibu).

Sense of self adalah persepsi seseorang mengenai dirinya sendiri.

Dengan sense of self yang kuat, seseorang mampu mengenal dirinya sendiri dan memiliki kotrol diri yang tinggi sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan.

Lalu apa yang akan terjadi jika seorang anak tumbuh tanpa atau kurang mendapatkan sosok ibu?

Menurut para ahli, seorang anak yang tumbuh tanpa atau kurang mendapatkan sosok ibu berpotensi besar mengalami " mother wound".

Tanpa penanganan yang tepat, mother wound bisa diturunkan ke generasi berikutnya.


Biasanya, anak-anak yang mengalami mother wound dibesarkan oeh seorang ibu yang memiliki gangguan kesehatan mental atau mengalami kecanduan zat seperti alkohol atau narkoba.

Akan tetapi, seorang ibu yang tidak memiliki ikatan emosional dengan anak juga berpotensi menyebabkan mother wound.

Sosok ibu semacam itu biasanya bukan ibu yang kasar dan tetap mampu memenuhi kebutuhan fisik sang anak, mereka hanya kurang dekat dengan sang anak sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan emosional anak-anaknya.


Tanda-tanda adanya mother wound

Melansir Psychology Today, orang dewasa yang mengalami "mother wound" sering kali teringat masa kecil mereka dan mengalami beberapa masalah berikut:

- tidak pernah merasa mendapatkan persetujuan atau penerimaan dari ibu mereka

- selalu khawatir tidak dicintai oleh ibunya seperti saudara atau anggota keluarga lainnya

- kesulitan berhubungan dengan ibu secara emosiona

- selalu berusaha menjadi lebih baik atau menjadi sempurna agar mendapatkan perhatian dan penerimaan dari ibu

- merasa cemas atau takut saat berada di dekat ibu merasa tak nyaman atau tidak aman saat bersama ibu.

===

Efek mother wound

Mother wound bisa menurunkan rasa percaya diri, kurangnya kesadaran emosional, dan ketidak mampuan untuk mengontrol diri.

Seseorang yang memiliki mother wound selalu merasa tidak lengkap dan kurang ketika ingin menjalin hubungan dengan orang lain.

Akibatnya, mereka selalu merasa hampa dan tidak mampu menjalin hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Mother wound juga bisa membuat seseorang memiliki sikap perfeksionis.

Jika tidak segera diatasi, mother wound bisa menyebabkan seseorang kesulitan menjalani hubungan.

Selain itu, orang dewasa yang memiliki mother wound juga berpotensi besar menularkan luka tersebut ke anak-anaknya kelak.

"Anak yang memiliki mother wound kemungkinan besar akan melanggengkan jenis hubungan ini dengan anak mereka sendiri," ucap psikolog Mary Ainsworth.

Seseorang yang memiliki mother wound seringkali merasa hampa dan tidak mampu menjalin hubungan yang bermakna dengan orang lain.


Menyembuhkan mother wound

Mother wound memang bukanlah diagnosis klinis atau medis tetap tetap membutuhkan penanganan yang tepat.

Berikut berbagai cara yang bisa digunakan untuk menyembuhkan "mother wound":

1. Ekspresikan perasaan anda

Langkah pertama agar terbebas dari mother wound adalah mengekspresikan perasaan rasa sakit atau marah yang kita pendam.

Hal ini juga bisa kita lakukan dengan menuliskan perasaan kita di atas kertas.

2. Cintai diri sendiri

Konsep diri kita dibangun melalui cara ibu berinteraksi dengan kita.

Perlu kita sadari bahwa fakta bahwa ibu kita tidak mampu membangun citra diri kita secara positif bukanlah kesalahan kita.

Dengan melepaskan citra yang kurang ideal, kita dapat menciptakan kembali citra diri kita secara positif.

3. Kembangkan kesadaran diri

Kita perlu belajar bagaimana berhubungan atau mengontrol emosi kita.

Luangkan waktu sejenak untuk memahami apa yang kita rasakan.

Lalu beri nama pada apa yang kita rasakan untuk melatih kesadaran diri.

4. Belajar menjadi orang tua untuk diri sendiri

Kita juga bisa belajar bagaimana menjadi orang tua, dan memberikan diri kita semua hal yang tidak pernah kita terima sebagai seorang anak.

Kita bisa melakukannya dengan memanjakan diri sendiri dan mencoba mengurus atau memunihi kebutuhan diri kita.

5. Memaafkan

Mengakui perasaan kita sendiri dan bersedih atas apa yang tidak pernah kita dapatkan sebagai seorang anak bisa menciptakan ruang emosional yang dibutuhkan untuk bisa memaafkan keadaan.

0 Response to "Bayi Perempuan Malang Pengidap Down Syndrome ini Dibuang Orangtuanya di Kebun Sawit"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel