SESAL Eks Tentara Israel Serang Palestina, Selama Ini Merasa Didustai: 'Saya Seperti Meneror Orang'

 



TRIBUNSTYLE.COM - Israel dan Palestina diketahui telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata.

Namun sayangnya, ketegangan kini kembali terjadi setelah polisi Israel menyerang warga Palestina di Masjid Al Aqsa.

Di tengah memanasnya konflik Israel dan Palestina, baru-baru ini pengakuan mantan tentara Israel menuai sorotan.



Mantan tentara Israel ini menyesali perbuatannya terhadap warga Palestina.

Bahkan ia tak ragu membongkar fakta dan misi utama yang dilakukan tentara Israel.

Ia adalah Eran Efrati, warga Israel yang pernah mengabdi sebagai tentara Israel.

Awalnya, Ia mengaku ragu atas apa yang dinikmatinya dari kekuasaan untuk mengendalikan warga Palestina.

Di saat yang bersamaan ia tak mengerti anak-anak Palestina yang tampak takut saat melihatnya.

Eran juga tak mengerti kenapa anak-anak Palestina menjauh darinya ketika ia pergi ke jalan.



Polisi perbatasan Israel mengenakan topeng pelindung di tengah patroli wabah COVID-19 di sekitar Gerbang Singa di Kota Tua Yerusalem, Rabu (25/3/2020).
Polisi perbatasan Israel mengenakan topeng pelindung di tengah patroli wabah COVID-19 di sekitar Gerbang Singa di Kota Tua Yerusalem, Rabu (25/3/2020). (AFP/MENAHEM KAHANA)

Eran mengaku, sebelum menjadi tentara Israel dirinya adalah seorang pendidik (pengajar).

Ia juga mengaku menyukai anak-anak.

Demikian, ia merasa bingung mengapa anak-anak Palestina yang ditemuinya ketakutan.

Setelah disadari, Eran mengaku melihat banyak perspektif terhadap dirinya sendiri.

Akhirnya ia sadar dari atribut dan semua perlengkapan perang yang menempel di pakaiannya.

“I realized after seeing a lot of perspective that they looked at me, there were boots, army uniforms, helmets, 6 bags of ammunition, 2 grenades in my hand

(Saya menyadari setelah melihat banyak perspektif bahwa mereka melihat saya, ada sepatu bot, seragam tentara, helm, 6 kantong amunisi, 2 granat di tangan saya),” 

“But I didn't realize it at the time and I really didn't understand it. (Tetapi saya tidak menyadarinya pada saat itu dan saya benar-benar tidak memahaminya)” ujar Eran Efrati.

Kendati begitu, dari sana Eran segera menyadari bahwa pekerjaannya bukan untuk melindungi siapa pun.

Eran merasa pekerjaan yang harus ia ikuti bertolak belakang dengan hati nuraninya.

Ia juga sadar dan terketuk hatinya untuk mengkritisi penjajahan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.

Bahkan dalam wawancara tersebut, mantan tentara Israel itu kini membeberkan fakta dan misi utama tentara Israel tersebut.

Setelah menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya, ia menyadari pekerjaannya untuk mempertahankan Sistem Apartheid.

mantan tentara Israel, Eran Efrat
mantan tentara Israel, Eran Efrat (Kanal Youtube Cordova Media)

Sistem Apartheid merupakan sistem yang diadopsi Israel selama ini untuk melemahkan Palestina.

Apartheid adalah Sistem pemisahan ras yang pernah diterapkan oleh pemerintah kulit putih Afrika Selatan pada tahun 1948-1990. 

Ciri dari Sistem Apartheid adalah melakukan tindakan represi terhadap penduduk kulit hitam dengan tujuan untuk memberikan keuntungan sebesar-besarnya pada kelompok minoritas kulit putih.

Eran menjelaskan bagaimana Sistem Apartheid dilaksanakan lewat pekerjaannya.

Saat menjadi tentara Israel ia mengetahui ada hak-hak yang dimiliki baik pemukim Yahudi maupun penduduk Palestina.

Ia bahkan mengaku paham dirinya tak boleh menindak pemukim Yahudi jika mereka menyerang penduduk Palestina.

Namun, hal yang terbaik yang bisa dilakukan saat itu menelepon kantor polisi lokal untuk datang menanganinya.

Ia menjelaskan pemukim Yahudi yang tinggal di Hebron memiliki hak yang dengan orang-orang yang tinggal di Yerusalem.

Tetapi, penduduk Palestina yang tinggal dekat dengan mereka, rumah, bangunan atau apartemen hidup di bawah kendali dan pengawasan dirinya.

Kemudian Eran mengaku, saat itu dirinya juga bisa melakukan apapun yang diinginkan.

Baik itu mengambil alih rumhanya atau dijadikan basis militer sementara.

Dengan kewenangannya saat itu ia bisa memutuskan untuk menangkap pemilik rumah (warga Palestina) hingga mengikatnya di pagar rumah basis militer.

Eran juga menjelaskan bagaimana diskriminasi perlakuan tentara Israel terhadap pemukim Yahudi dan penduduk Palestina.

Jika mendapatkan perintah, ia bisa saja menghancurkan rumah yang ia rebut tersebut.

Kemudian, tentara Israel juga mencegah penduduk Palestina keluar di jalan yang dikhususkan bagi pemukim Yahudi.

Penduduk Palestina harus melewati jendela menuju halaman lalu menuju sisi lain di Kota Hebron.

Demikian, melihat kenyataan diskrimanasi tersebut, Eran akhirnya menyadari dan memahami situasinya.

Ia mengaku setelah menyadari hal itu ia merasa didustakan sejak menjadi tentara Israel.

“I then realized and understood that someone had lied to me along the way (Saya kemudian menyadari dan memahami bahwa seseorang telah berbohong kepada saya selama ini),” ujar mantan tentara Israel tersebut.

Dari pekerjaan menjadi tentara pengaman, ia merasa tak melindungi siapapun.

Ia juga merasa tidak membantu siapapun atau merasa lebih aman.

Pada kenyataannya, saat itu ia justru merasa dirinya adalah seorang teroris untuk orang lain.

“I feel like I've been terrorizing people, (Saya merasa seperti saya telah meneror orang)” ungkapnya seperti dikutip dari Tribun Jabar Inilah Pengakuan Mantan Tentara Israel Menyesal Serang Palestina Merasa Didustakan Bongkar Fakta ini.

Eran mengungkapkan saat menjadi tentara Israel ia merasa batasan antara kebaikan dan keburukan yang dipelajari saat anak-anak untuk menjadi sisi baik saat itu telah hancur.

Eran menyadari pekerjaan sebagai tentara Israel tak lain merupakan menjadi teroris.

Dengan pekerjaan itu ia menakut-nakuti orang lain agar mereka tidak berpikir untuk melawan para pemukim atau tentara Israel.

Eran mengungkapkan itulah misi utama tentara Israel.

Tentara Israel memastikan rasa takut pada hati-hati penduduk Palestina terus tertanam.

Demikian, pengakuan mantan tentara Israel ini diungkapkan dalam wawancara yang diunggah di Cordova Media pada 2018 lalu.

Wawancara pengakuan mantan tentara Israel, Eran Efrati ini kembali mengemuka seiring dengan memanasnya kembali konflik Israel dan Palestina sejak akhir Ramadan tahun ini.

Israel dan Hamas Palestina saling serang setelah konflik persidangan penduduk Palestina di Sheikh Jarrah berada di Mahkamah Agung Israel.

Dalam konflik tersebut, warga Sheikh Jarrah harus terusir dari rumahnya karena pemukim yahudi dan agresi militer Israel.

Kemudian warga Sheikh Jarrah melakukan aksi solidaritas berharap menunda putusan dari sengketa tanah pemukiman di Yerusalem Timur tersebut.

Naas, tragedi itu memuncak ketika polisi Israel yang mereka sebut IOF (Israeli Occupation Forces) mulai menyerang warga Palestina di komplek Masjid Al Aqsa di akhir bulan Ramadan.

Para polisi Israel bahkan melakukan aksi serangan tersebut saat warga Palestina sedang melaksanakan ibadah salat tarawih.

Singkat cerita, sejak saat itu bentrok antara polisi Israel dan warga Palestina tak terhindarkan hingga berakhir saling serang melayangkan rudal.

Militer Israel kembali melakukan serangan udara rudal Israel ke jalur Gaza.

Begitu juga dengan Hamas Palestina yang berusaha mengimbangi serangan tersebut.

Hingga akhirnya, pada Kamis 20 Mei 2021 kemarin, Israel dan Hamas Palestina telah sepakat melakukan gencatan senjata.

Sayangnya, baru sehari gencatan senjata berlangsung ketegangan kembali terjadi.

Hal ini disebabkan aksi polisi Israel kembali menyerang warga Palestina di Masjid Al Aqsa.

Setelah warga Palestina menyelesaikan salat Jumat, mereka diserang polisi Israel.

Dilansir dari dailymail.co.uk, bahkan polisi Israel menembakkan gas air mata dan peluru baja berlapis karet.

Sebagai balasan, orang-orang Palestina kembali menggelar aksi protes dan melemparkan batu.

Akibat insiden tersebut, sejumlah orang mengalami luka, tapi Bulan Sabit Merah Palestina belum merilis angka berapa banyak orang yang terluka.

(*)

0 Response to "SESAL Eks Tentara Israel Serang Palestina, Selama Ini Merasa Didustai: 'Saya Seperti Meneror Orang'"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel